Sabtu, 23 Juni 2012

nama                   : hasriana hasan
nim                       : 10533 5714 09
kls                       : vi.d

SILABUS PEMBELAJARAN

Sekolah                                   : ...................................
Mata Pelajaran                     : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester                      : X /1 (Satu)
Standar Kompetensi           : Mendengarkan
5. Memahami puisi yang disampaikan secara langsung/ tidak langsung    


Kompetensi
Dasar
Materi
Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Indikator Pencapaian Kompetensi
Penilaian
Alokasi
Waktu
Sumber
Belajar
Teknik Penilaian
Bentuk
 Instrumen
Contoh
Instrumen
5.1    Mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman  

Rekaman  puisi atau pembacaan langsung
·  majas,
·  irama
·   kata-kata konotasi
·  Kata-kata bermakna  
   lambang
·      Mendengarkan puisi.
·      Mendiskusikan unsur-unsur bentuk puisi tersebut.
·     Melaporkan hasil diskusi.
·     Mengidentifikasi (majas, rima, kata-kata berkonotasi dan bermakna lambang)
·     Menanggapi unsur-unsur puisi yang ditemukan
·     Mengartikan kata-kata berkonotasi dan makna lambang





Tes tulis
Tugas kelompok
Tugas individu




Uraian



·  Tentukanlah  majas apa yang  terdapat dalam puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman  
·  Tentukanlah  unsur-unsur puisi yang disampaikan secara langsung
·  Kemukakanlah  kata-kata berkonotasi dan maknalambang pada puisi yang disampaikan  secara langsung ataupun melalui rekama
2X40’
·      rekaman puisi/ tape

·      puisi yang dibacakan
v  Karakter siswa yang diharapkan :        Dapat dipercaya ( Trustworthines)
Rasa hormat dan perhatian ( respect )
Tekun ( diligence )
Tanggung jawab ( responsibility )
Berani ( courage )
Ketulusan ( Honesty )







Materi pembelajaran
.       Pengertian Puisi
Puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata, rima dan irama sebagai media penyampaian untuk membuahkan ekspresi, ilusi dan imajinasi. Dalam puisi keindahan ilusi, penataan unsur bunyi juga merupakan gambaran gagasan penciptanya/penyairnya. Puisi (dari bahasa Yunani kuno: ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa.
UNSUR-UNSUR PUISI
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur-unsur puisi , yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut.
·         Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.
·         Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan.
·         Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.
·         Bunyi dibentuk oleh rima dan irama.
·         Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait.
·         Irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata.
Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.
·         Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.
Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik.
Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1) Tema/makna (sense);
Media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
(2) Rasa (feeling)
Yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3) Nada (tone)
Yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
(4) Amanat/tujuan/maksud (itention)
Sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
Sedangkan struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1) Perwajahan puisi (tipografi)
yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2) Diksi
yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
(3) Imaji
yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4) Kata kongkret
yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
(5) Bahasa figuratif
yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis,alegori, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
(6) Versifikasi
yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup
Ø  onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi
Ø  bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata]
Ø  pengulangan kata/ungkapan. Ritma adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.




Contoh puisi
DOA
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengutuk
aku tidak bisa berpaling
                                       (Chairil Anwar)

Analisis :
Berdasarkan jenis kata yang digunakan mengandung banyak makna kias, cerita tidak disampaikan secara langsung

A. Struktur Fisik

1. Diksi
Puisi yang berjudul doa karya Chairil Anwar di atas, merupakan jenis puisi prismatic. Hal itu terlihat dari susunan katanya yang tidak langsung memancarkan makna. Jadi, untuk mendapatkan makna yang kita cari, maka pembaca harus mengira-ira maksud dari tiap kata atau baris.
Pada puisi itu, pengarang menggunakan diksi yang sederhana, namun dari diksi ynag sederhana itu timbul rangkaian bahasa kias. Mengenai diksi, pengarang menggunakan kata yang berlainnan untuk menyebutkan makna yang sama. Misal, pada puisi di atas dituliskan kata `penuh menyeluruh` dua kata itu hampir sama maknanya, namun oleh pengarang digunakan secara bersamaan. Kata itu sesungguhnya bukan makna yang sebenarnya. Oleh pengarang, kata `penuh menyeluruh ` itu merupakan gambaran tuhan yang benar-benar ada . Selain itu, pada puisi itu juga terdapat kata atau diksi `hilang bentuk` hal ini bermakna kehancuran. Jika pengarang langsung saja menggunakan kata hancur, walaupun maknanya sama, namun keutuhan makna dalam baris tidak akan terbentuk sempurna.

2. Bunyi
Bunyi yang dihasilkan dari rangkaian kata-kata dalam puisi di atas, sangat menarik dan bisa membantu menegaskan makna. Pada bait pertama yang hanya terdiri atas satu baris saja menampilkan bunyi yang utuh ynag terpancar dari kata `teguh`. Bunyi u merupakan bunyi bulat yang utuh dan sangat mantap untuk kesan suara berat. Apalagi diikuti dengan bunyi h yang merupakan penutup suara. Jadi peran bunyi h adalah untuk mengakhiri bunyi u yang dilafalkan sebelumnya.

kepada pemeluk teguh

Bunyi yang ditampilkan oleh pengarang pada puisi itu sangat teratur dan seragam. Selalu ada persamaan bunyi akhir walaupun hanya dua baris saja yang sama. Persamaan bunyi akhir juga bervariasi antara pasangan baris satu dengan yang lainnya.

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Kesamaan bunyi akhir u pada tiga baris sekaligus menimbulkan kesan yang mendalam. Karena bunyi u merupakan bunyi yang bulat dan utuh. Bunyi u dapat menimbulkan kemerduan. Selain bunyi u yang berdiri sendiri tanpa penutup, ada juga bunyi u yang disrtai penutup yang berupa huruf konsonan h yang merupakan unsur titik bagi bunyi u.
Biar susah sungguh
mengingat kau penuh seluruh

Bunyi i juga yang ditampilkan pada akhir baris puisi tersebut. Setelah bunyi u yang bulat, dilanjutkan bunyi i yang tinggi, maka akan menimbulkan variasi bunyi ynag bisa berpengaruh dengan irama.
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

3. Versifikasi
Pada puisi yang berjudul `doa` di atas mengandung rima akhir, rima identic, asonansi, dan juga aliterasi.
Rima akhir yang dominan adalah u dan i. Bunyi u memberikan kesan yang penuh atau bulat. Dengan bunyi u juga bisa memberikan kesan menguatkan makna. Selain u, ada juga bunyi i. Bunyi I disini memberikan kesan nada tinggi. Kombinasi bunyi u dan I membuat nada pengucapan pada puisi relative beragam.
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu



cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Dalam puisi itu juga terdapat asonansi e, u, dan i. Asonansi yang beragam membuat puisi terkesan mempunyai bunyi yang bervariasi. Bunyi yang bervariasi membuat puisi semakin indah, karena suara yang dihasilkan beraram dan tidak menimbulkan rasa bosan. Hal itu terlihat pada kutipan di bawah ini.

mengingat kau penuh seluruh (asonansi e)
kepada pemeluk teguh (asonansi e)
Biar susah sungguh (asonansi u)
di pintuMu aku mengutuk (asonansi u)
aku tidak bisa berpaling (asonansi i)
aku mengembara di negeri asing (asonansi i)

Selain asonansi, ada juga aliterasi.

Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh

Ada rima identik dalam puisi tersebut. Rima identic ini akan mempertegas makna, karena terjadi pengulangan kata atau diksi pada beberapa bait. Rima identic yang terdapat pada puisi itu adalah kata `Tuhanku`. Kata ini digunakan secara berulang karena sesuai dengan judul puisi yaitu doa, sehingga kata itu akan lebih menunjukkan pada makna doa yang ditujukan padanya.
Selain rima identic, ada juga rima rupa pada kata `penuh` dan `seluruh`.

mengingat kau penuh seluruh



4. Bahasa kias
Pada puisi doa karya Chairil Anwar, terdapat beberapa bahasa kias, diantaranya `penuh seluruh` yang berarti sungguh-sungguh ada. Bahas kias itu digunakan untuk memperindah puisi dan juga untuk memadatkan makna. Selain itu, ada kata `hilang bentuk` yang berarti tidak berwujud lagi. Untuk mempersingkat kata, maka pengarang menggunakan istilah semacam itu. Kata `mengembara ke negeri asing` juga merupakan ungkapan dalam bahasa kias yang berarti kebingungan. Tokoh aku merasa bingung dengan hidup yang sedang dijalaninya.
Bahasa kias yang digunakan oleh pengarang membuat puisi semakin padat. Pemadatan ini mempengruhi bentuk puisi dan unsur keindahannya pula.

5. Tipografi
Bentuk wajah yang ditampilkan pada puisi tersebut lumayan menarik. Walaupun penulisannya rata kiri dan bagian kanan terlihat tidak teratur, namun terkesan singkat dan indah karena tiap baris puisi hanya disusun oleh beberapa kata saja. Jadi, baris-baris dalam puisi itu tidak panjang-panjang, melainkan pendek. Selain jumlah kata yang menyusun baris, wajah puisi juga dibentuk oleh penyusunan puisi yang dibuat berbait-bait, tidak hanya utuh dalam satu bait saja. Puisi itu juga dibuat dengan kombinasi huruf kecil dan huruf capital. Ada beberapa baris yang penulisannya menggunakan awalan huruf kapital, namun ada juga yang diawali dengan huruf kecil. Hal itu mungkin berpengaruh pada pemenggalan pada puisi.

B. Struktur Batin

1. Makna dan rasa
Makna yang ingin disampaikan pengarang dalam puisi tersebut adalah tentang seseorang yang sedang mengalami kesusahan ynag mendalam dan dia merasa jauh dengan tuhannya. Dia merasa tuhan sudah tidak lagi sayang padanya karena tuhan membiarkan dia dalam kebingungan bak mengembara ke negeri asing. Tokoh aku mewakili orang-orang yang hampir melupakan tuhannya karena alasan sesuatu. Dalam penyesalannya tokoh aku berpasrah pada tuhannya. Hal itu membuktikan bahwa kita sebagai makhluk tuhan tidak bisa lepas dari tuhan.
Rasa susah yang mendalam dan penuh dengan kebingungan dirasakan oleh tokoh aku. Perasaan seperti itu ikut dirasakan oleh pembaca saat membaca puisi tersebut dan memahami makna yang ada di dalamnya. Makna dan rasa itu akan menyatu dalam hati dan memberikan pesan yang positif maupun negative kepada pembaca. Itulah tujuan pengarang menghadirkan puisi semacam itu, agar kita selalu ingat pada tuhan, karena sesungguhnya hidup ini diatur oleh-Nya.

2. Nada dan suasana
Melalui puisi itu, pengarang berusaha menasehati dan mengingatkan kita para pembaca supaya selalu ingat kepada tuhan. Tuhan adalah makhluk yang nyata dan benar-benar ada. Jadi, kita tidak boleh meragukan keberadaannya.
Setelah membaca puisi itu, pembaca akan merasakan perenungan dan instropeksi diri apakan selama ini dia sudah melakukan yang selaras ataukah belum. Jadi, melalui puisi itu, pembaca bisa berkaca tentang dirinya sendiri.

Soal
1.      tentukan  majas apa yang terdapat dalam puisi tersebut?
2.      jelaskan unsur-unsur yang terkandung dalam puisi tersebut?
3.      Kemukakanlah kata-kata berkonotasi dan  makna lambang yang terdapat dalam puisi tersebut?
Penyusunan Tujuan Khusus yang Memuat Empat Kriteria
A.     Dengan melaksanakan kegiatan diskusi Audience/ sasaran
B.     Behavior/ tingkah laku
C.     Condition/ syarat
D.     Degree/ ukuran
                                           
·         Tujuan khusus dari KD (Mengidentifikasi unsur-unsur bentuk puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman)
1.      Setelah  melaksanakan kegiatan belajar mengajar  siswa SMA kelas X dapat menentukan majas    secara tepat
C                                              A                                 B                      D

                                                           
2.      Siswa SMA kelas X dapat menjelaskan  unsur-unsur puisi     setelah pembacaan puisi  dengan tepat
A                                 B                                              C                                  D

3.      Siswa SMA kelas X dapat mengemukakan kata-kata berkonotasi dan makna lambang   setelah pembacaan puisi    secara tepat
A                                                         B                                                          C                      D


Analisis Kelayakan Alat Tes

I.                    Mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu  puisi


Tujuan


Nomor butir soal

Jumlah

Tujuan  I

 Tujuan  II

 Tujuan III

1


2

3



1

1


1


Jumlah soal dan poin keseluruhan

3




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar